Kehidupan manusia di dunia sekarang ini sudah “sempurna” kebejatannya, kebobrokannya. Akhlaq manusia sudah banyak yang “rusak”. Beberapa kasus berita telah kita baca dikoran atau saksikan di televisi, terakhir berita seorang ibu yang membakar anak dan dirinya sendiri yang terjadi di Yoqyakarta.
Daftar kezaliman dan kerusakan akhlaq manusia :
1. Hubungan suami isteri sebelum nikah
2. Hidup berumah tangga tanpa nikah
3. Aborsi tanpa alasan syar’i
4. Ibu membunuh bayi yang baru dilahirkannya, karena hamil tanpa nikah
5. Ayah memperkosa anak kandung
6. Anak kandung memperkosa ibu
7. Kakek memperkosa cucu
8. Cucu memperkosa nenek
9. Ibu membunuh anak-anaknya
10. Bunuh diri
11. Membunuh orang tanpa haq
12. Majikan menyiksa pembantu rumah tangga
13. Anak kecil membunuh temannya
14. Perzinahan
15. Dan seterusnya.......
Di samping itu, dalam hidup bergaul dan bermasyarakat juga dapat ditemui orang-orang yang sudah gelap hatinya, dan ini adalah kerusakan akhlaq yang sangat parah, yaitu orang yang sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, orang yang sudah berbuat baik saja mereka salahkan apalagi orang yang khilap berbuat kesalahan, semakin menjadi-jadi mereka caci-maki. Mereka itu beranggapan bahwa hanya mereka saja yang selalu dan pasti benar, orang lain selalu dan pasti salah. Baik itu dalam berbicara, dalam menyampaikan fikiran maupun dalam bertingkah laku. Contoh yang nyata yaitu, mereka berani meninggalkan sholat, dan mereka merasa enteng saja, menganggap tidak berdosa dan merasa benar dengan tidak sholat tersebut. Sementara temannya yang sholat dianggap mencari perhatian orang dan disebut sok alim. Dalam hubungan sosial memang sering saja kita berdialog, terutama masalah umum dan kerjaan, akan tetapi bila kita mulai mengarahan pembicaraan kepada topik agama, mereka mulai berkelit dengan menyampaikan bahwa hal itu bukan jurusan mereka, bahkan mereka dengan berani menyebutkan bahwa jurusan mereka adalah “jurusan neraka”, walaupun disampaikan sambil guyon dan tertawa.
Menyedihkan dan memprihatinkan.......
Jumat, 04 Mei 2007
Senin, 29 Januari 2007
PELATIHAN PENINGKATAN KUALITAS MUBALIGH MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahy mungkar, sudah barang tentu memerlukan mubaligh-mubaligh yang selain banyak juga berkualitas dalam rangka menjawab tantangan dakwah masa kini. Untuk mengatasi hal tersebut maka Muhammadiyah perlu melakuan upaya untuk memperbanyak pencetakan mubaligh dan meningkatkan kualitas mubaligh yang ada.
Sehubungan dengan itu, maka diselenggarakanlah Pelatihan Regional Peningkatan Kualitas Mubaligh Muhammadiyah Kalimantan dan Sulawesi di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan tujuan pertama untuk meningkatnya mutu dan kompetensi Mubaligh Muhammadiyah dan kedua untuk meningkatnya kuantitas dan kualitas dakwah dalam segala dimensi kehidupan sesuai dengan prinsip gerakan Muhammadiyah
Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan pada hari Jum’at s.d Sabtu tanggal 26 – 27 Januari 2007, bertempat di Balai Pelatihan Teknis Pertanian (BPTP), Sempaja Samarinda ini seyogyanya diikuti juga oleh mubaligh/mubalighot utusan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah seluruh Kalimantan kecuali Kalimantan Barat serta seluruh Sulawesi, tapi karena sesuatu hal, utusan dari PWM dari luar Kalimantan Timur sampai acara penutupan tidak bisa hadir. Kegiatan yang langsung dibina oleh Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah diikuti oleh 40 mubaligh Muhammadiyah dan mubalighot Aiyiyah Kalimantan Timur.
Narasumber dari MTDK PP Muhammadiyah adalah Bapak Sukriyanto AR; Bapak Syamsul Hidayat; Bapak Yusron Asrofie; Bapak Ismail TS dan Bapak Syakir Jamaluddin dengan materi Metode Pengambilan Sumber Rujukan; Kepekaan Mubaligh Muhammadiyah; Strategi Penyampaian Materi; Komunikasi Efektif; Kemampuan mengorganisir, membentuk jamaah dan jaringan; dan diadakan juga workshop.(ay.1)
Sabtu, 30 Desember 2006
apakah sudah berqurban
tadi aku menerima beberapa sms tentang ucapan selamat merayakan idul qurban 1427 hijriyah, sambil menyelipkan do'a "semoga semua pengorbanan" mendapat balasan dari Allah SWT. setelah menerima sms-sms tersebut, aku jagi merenung dan mempertanyakan, sebenarnya apasih yang telah aku korbankan selama ini? apa memang ada pengorbanan tersebut? apa betul yang kita lakukan selama ini bisa disebut sebuah pengorbanan? apa sudah ada pengorbanan untuk negara dan bangsa ? .... apalagi pengorbanan untuk memperjuangkan agama Allah, apa memang ada?.......
Senin, 11 Desember 2006
POLIGAMI HANYA BAGI ORANG YANG BERIMAN
Bagi orang yang beriman (benar-benar iman), tidak ada sedikitpun keraguan untuk menerima dengan sepenuh ketaatan dan keikhlasan atas segala ketentuan yang diberlakukan oleh Allah swt dan Rasulullah saw, terutama ketentuan yang terdapat dalam As Sunnah Maqbullah, apalagi yang terdapat di dalam Al Qur’an.
Begitu pula halnya dengan ketentuan terhadap bolehnya poligami di dalam ajaran Islam, karena sudah dihalalkan oleh Allah swt, maka suka atau tidak suka, kita harus ikhlas menerima apa adanya ketentuan tersebut, kita harus yakin seyakin-yakinnya itu merupakan suatu syariat yang akan membawa kita kepada kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, karena ketentuan itu dibuat oleh Allah swt yang menciptakan manusia, oleh Allah swt yang faham betul tentang sifat dan tabiat manusia yang diciptakannya. Jadi, penerimaan dengan sepenuh hati dan keikhlasan terhadap ketentuan ini atau syariat ini merupakan salah satu tolak ukur keimanan kita terhadap Allah swt.
Namun demikian, untuk mengakomodir “perasaan” (terutama kaum perempuan) yang katakanlah belum bisa pas dengan ketentuan tersebut terdapat beberapa hal yang perlu dikembangkan yaitu;
1. Jangan menyalahkan orang yang melakukan poligami, sebab Allah swt telah menghalalkannya, dan Rasulullah saw dan beberapa sahabat beliau yang dijamin masuk surga juga ada yang melakukannya. Apalagi menyalahkan syariat poligami bahkan menganggap orang yang berpoligami sebagai pelaku kriminal. Bagi kita orang Islam yang mengaku beriman, maka menerima dengan ikhlas ketentuan yang telah dihalalkan oleh Allah swt adalah suatu hal yang sangat mutlak.
2. Bahwasanya praktek poligami yang kita lihat dan saksikan kurang pas dimata kita, bukan berarti bahwa syariat poligami itu menjadi hal yang tidak baik, sebab praktek poligami itu tergantung pada diri pribadi orang yang melakukannya. Kalau orang yang melakukannya adalah suami dan istri-istri, orang-orang yang beriman dan bertaqwa, Insya Allah, praktek poligami di rumah tangga dan keluarga tersebut akan sakinah mawadah warahmah, namun sebaliknya, kalau yang melakukan praktek poligami itu suami dan istri-istri, orang-orang yang lemah iman dan taqwanya, biar tidak poligami pun, rumah tangga dan keluarga tersebut susah dan sulit mendapatkan suasana yang sakinah mawadah warahmah. Oleh karena itu apabila sang suami melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya, tidak ada hubungannya dengan poligami, karena banyak juga yang tidak poligami, sang suami melakukan kekerasan terhadap isteri, untuk itu bagi istri yang diperlakukan demikian bisa melaporkan ke polisi, karena hal itu adalah tindakan pidana. Di Negara kita ada KUHP yang mengaturnya.
3. Andaikata hal tersebut terjadi pada diri atau keluarga kita, yakinlah bahwa hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah swt terhadap kita, yakinlah Allah swt akan menaikan derajat kita dengan ujian dan cobaan itu, kalau kita sabar, kalau kita lulus dengan ujian itu. Sebab hidup di dunia ini hanya sementara dan main-main saja, hanya senda gurau saja, hidup yang kekal abadi adalah yang di akhirat nanti, itu yang sangat perlu kita persiapkan bekalnya dengan sebaik-baiknya, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. 4. Kita tidak boleh menambah-nambah syarat atau ketentuan sebagai mana yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan dicontohkan oleh Rasulullah saw, terhadap masalah ini, seperti syarat harus ada ijin dari istri, karena Rasulullah saw tidak pernah minta ijin kepada istri beliau kalau beliau mau nikah lagi, sebab menambah ketentuan seperti itu bisa termasuk bid’ah, bid’ah adalah sesat, sesat itu neraka tempatnya.
Kehidupan keluarga yang bahagia mawadah warahmah tidak ditentukan oleh keluarga yang melakukan monogami atau poligami, tapi oleh kemampuan orang dalam “dzikir” kepada Allah SWT. (QS.Ar Rad (13) ayat 28), ikhlas dan ridha dengan ketentuan agama serta yang mendapat ridha Allah SWT. (QS. Al Bayinah (98) ayat 5 dan 8). Wallahu ‘alam bishawab.
Begitu pula halnya dengan ketentuan terhadap bolehnya poligami di dalam ajaran Islam, karena sudah dihalalkan oleh Allah swt, maka suka atau tidak suka, kita harus ikhlas menerima apa adanya ketentuan tersebut, kita harus yakin seyakin-yakinnya itu merupakan suatu syariat yang akan membawa kita kepada kebaikan di dunia maupun di akhirat kelak, karena ketentuan itu dibuat oleh Allah swt yang menciptakan manusia, oleh Allah swt yang faham betul tentang sifat dan tabiat manusia yang diciptakannya. Jadi, penerimaan dengan sepenuh hati dan keikhlasan terhadap ketentuan ini atau syariat ini merupakan salah satu tolak ukur keimanan kita terhadap Allah swt.
Namun demikian, untuk mengakomodir “perasaan” (terutama kaum perempuan) yang katakanlah belum bisa pas dengan ketentuan tersebut terdapat beberapa hal yang perlu dikembangkan yaitu;
1. Jangan menyalahkan orang yang melakukan poligami, sebab Allah swt telah menghalalkannya, dan Rasulullah saw dan beberapa sahabat beliau yang dijamin masuk surga juga ada yang melakukannya. Apalagi menyalahkan syariat poligami bahkan menganggap orang yang berpoligami sebagai pelaku kriminal. Bagi kita orang Islam yang mengaku beriman, maka menerima dengan ikhlas ketentuan yang telah dihalalkan oleh Allah swt adalah suatu hal yang sangat mutlak.
2. Bahwasanya praktek poligami yang kita lihat dan saksikan kurang pas dimata kita, bukan berarti bahwa syariat poligami itu menjadi hal yang tidak baik, sebab praktek poligami itu tergantung pada diri pribadi orang yang melakukannya. Kalau orang yang melakukannya adalah suami dan istri-istri, orang-orang yang beriman dan bertaqwa, Insya Allah, praktek poligami di rumah tangga dan keluarga tersebut akan sakinah mawadah warahmah, namun sebaliknya, kalau yang melakukan praktek poligami itu suami dan istri-istri, orang-orang yang lemah iman dan taqwanya, biar tidak poligami pun, rumah tangga dan keluarga tersebut susah dan sulit mendapatkan suasana yang sakinah mawadah warahmah. Oleh karena itu apabila sang suami melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya, tidak ada hubungannya dengan poligami, karena banyak juga yang tidak poligami, sang suami melakukan kekerasan terhadap isteri, untuk itu bagi istri yang diperlakukan demikian bisa melaporkan ke polisi, karena hal itu adalah tindakan pidana. Di Negara kita ada KUHP yang mengaturnya.
3. Andaikata hal tersebut terjadi pada diri atau keluarga kita, yakinlah bahwa hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah swt terhadap kita, yakinlah Allah swt akan menaikan derajat kita dengan ujian dan cobaan itu, kalau kita sabar, kalau kita lulus dengan ujian itu. Sebab hidup di dunia ini hanya sementara dan main-main saja, hanya senda gurau saja, hidup yang kekal abadi adalah yang di akhirat nanti, itu yang sangat perlu kita persiapkan bekalnya dengan sebaik-baiknya, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. 4. Kita tidak boleh menambah-nambah syarat atau ketentuan sebagai mana yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan dicontohkan oleh Rasulullah saw, terhadap masalah ini, seperti syarat harus ada ijin dari istri, karena Rasulullah saw tidak pernah minta ijin kepada istri beliau kalau beliau mau nikah lagi, sebab menambah ketentuan seperti itu bisa termasuk bid’ah, bid’ah adalah sesat, sesat itu neraka tempatnya.
Kehidupan keluarga yang bahagia mawadah warahmah tidak ditentukan oleh keluarga yang melakukan monogami atau poligami, tapi oleh kemampuan orang dalam “dzikir” kepada Allah SWT. (QS.Ar Rad (13) ayat 28), ikhlas dan ridha dengan ketentuan agama serta yang mendapat ridha Allah SWT. (QS. Al Bayinah (98) ayat 5 dan 8). Wallahu ‘alam bishawab.
Sabtu, 02 Desember 2006
LARANGAN BAGI YANG AKAN BERQURBAN

Sejak awal bulan Dzulhijjah, orang yang akan berqurban agar tidak memotong kuku dan tidak memotong rambut. Hal ini berdasar hadist nabi : Dari Ummu Salamah, bahwasanya nabi saw bersabda : Jika kamu telah melihat hilal (bulan sabit yang menandakan tanggal 1 bulan (qomariah) bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantaramu ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan untuk tidak memotong rambut dan kukunya. (HR. Muslim (Shahih, al-Adhahiy:3655,3653,3656), al-Tirmidzi (Sunan, al-Adhahiy:1443), an-Nasaiy (Sunan, al-dhahaya:4285,4286,4288), Abu Dawud(Sunan, al-Dhahaya:2409), Ibn Majah (Sunan, al-Adhahiy:3140,3141), Ahmad ibn Hanbal (Musnad Ahmad, Baqiy Musnad al-Anshar:25269, 25359, 25435), al-Darimiy (Sunan, al-Adhahiy:1865,1866).
Selasa, 28 November 2006
Ustadz Abu Bakar Ba'asyir
Minggu, 12 November 2006
IDUL FITRI MENYATUKAN HATI, BERGEMBIRA UNTUK RIDHA ALLAH
Pada hari raya Idul Fitri, kaum muslimin bersama-sama bertakbir dan bertahlil untuk mengagungkan dan meng-Esakan Allah SWT, seru sekalian alam. Takbir dan tahlil yang menggema diseluruh penjuru dunia itu diringi dengan kebahagiaan dan kegembiraan bagi kaum muslimin, karena telah menyelesaikan kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu dari rukun Islam.
Ada empat hal yang perlu kita renungkan pada suasana Idul fitri ini. Pertama,kita telah melakukan kewajiban berpuasa selama bulan ramadhan. Kedua, dibulan ramadhan, kita sama-sama telah menmperingati turunnya Kita Suci Al Qur,an, yang menjadi pedoman hidup kita. Ketiga, sebelum kita pergi shalat ‘Ied, kita telah menyerahkan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin. Ke empat, biasanya setelah itu kita akan mengadakan silaturahim kepada sesame keluarga kerabat, para tetangga dan kepada kaum muslimin lainnya.
Yang pertama kita telah sebulan puasa. Tujuan puasa tidak lain adalah seperti termaktub pada surat Al Baqarah ayat 183 : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang terdahulu, agar kalian meningkatkan ketaqwaan kalian”
Allah SWT telah memerintahkan kepada kita agar supaya kita benar-benar bertaqwa kepada-Nya. Artinya ketaqwaan kita agar kita jalani dan kita mantapkan dengan sungguh-sungguh. Tidak mempermudah dan tidak menganggap enteng dalam bertaqwa kepada Allah SWT.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa” (QS.Ali Imran ayat 102). Ini menunjukkan bahwa ada diantara orang-orang yang walaupun sudah beriman masih juga ditemui taqwanya tidak sebenar-benarnya. Apalagi orang yang tidak beriman, mengaku-ngaku bertaqwa, pasti dusta.
Mengapa Allah SWT memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bertaqwa dengan benar-benar? Karena Allah menjamin bahwa orang yang beriman dan benar taqwanya akan memiliki modal yang kuat dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat kelak. Hanya orang-orang yang berakal jernih sajalah yang mengerti bahwa modal dan bekal yang paling baik dalam mengarungi hidup ini adalah taqwa kepada Allah SWT.
“Berbekallah kalian semasa hidup kalian, dan sesungguhnya bekal yang paling baik (sempurna) adalah sikap dan perilaku taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal dan berhati jernih. (QS.Al Baqarah ayat 197).
Marilah kita adakan evaluasi terhadap puasa kita, apakah taqwa kita telah meningkat atau belum, terutama pada sikap dan perilaku kita dihari-hari mendatang.
Yang kedua, dalam bulan ramadhan kita memperingati turunnya Al Qur’an. Al Qur’an sudah tidak diragukan lagi menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. “Inilah kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan atasnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang taaqwa”. (QS.Al Baqara ayat 2).
Ayat ini menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang paling benar, yang paling haq, sehingga tidak pantas bila seseorang yang mengaku Islam meragukan kebenarannya, sehingga ada upaya untuk mereduksi apalagi mengamandemen ayat-ayat Al Qur’an, dengan alas an sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi jaman sekarang. Al Qur’an itu datangnya dari Allah SWT. Tuhan yang tahu betul tentang kelakuan dan tabiat manusia ciptaannya, sehingga dibuatkanlah pedoman yang pasti pas dan cocok untuk manusia itu. Makanya kita pertanyakan keimanan seseorang yang meragukan kemutlakan ayat-ayat Al Qur’an tersebut, bahkan berani mengatakan sudah tidak sesuai lagi dengan Hak Asasi Manusia (HAM), pluralisme dan Gender. Al Qur’an menjadi petunjuk yang paling baik, di antara pedoman hidup yang ada, bagi manusi terutama bagi orang-orang yang taqwa.
Dalam berbagai ayat disebutkan akan kebenaran Al Qur’an, bukti-bukti akan kebenarannya masuk akal dan dapat diterima dengan rasio, dan bahkan meniadakan keraguan, kebimbangan dan syak wasangka. Mari kita perhatikan ayat 88 surat Al Isra : “Katakanlah Muhammad, seandainya jika seluruh manusia dan jin bekerja sama untuk membuat yang serupa dengan (kitab) Al Qur’an, niscaya tidak akan dapat dan tidak akan mampu, sekalipun mereka bekerja sama satu dengan yang lain.”
Masihkan kita meragukan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi kita orang-orang yang beriman, yang bertaqwa? Oleh karena itu, jika benar-benar ingin meningkatkan ketaqwaan, maka jadikanlah Al Qur’an sebagai bacaan utama dan pertama bagi kita, tiada hari tanpa membaca Al Qur’an,
Yang ketiga, kita menyerahkan zakat kepada fakir miskin yang ada di sekitar kita atau kepada Badan/Lembaga Amil Zakat. Hal ini merupakan symbol dari salah satu hikmah puasa, yaitu kepedulian kepada nasib kaum dhua’fa. Kepedulian ini hendaknya tidak hanya terjadi sekali saja selama setahun, tetapi seterusnya. Allah SWT mnengancam orang yang menyimpan harta kekayaan dan bersifat bakhil. Surat At Taubah ayat 34: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak (kekayaan), tetapi tidak mau menafkahkan kepada fakir miskin pada jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang sangat menyakitkan.
Yang kempat yaitu silaturahim, menyambung tali persaudaraan mengikat kasih saying, dan sekaligus saling berma’afan. Dalam hidup bermasyarakat, memang kita harus rukun antar sesame. Menghindari perbuatan yang menyebabkan perselisihan dan permusuhan serta saling membenci dan dendam. Lebih-lebih persaudaraan antara umat Islam sendiri. Ukhuwah Islamiyah harus semakin erat terjalin.
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan”. (HR.Muslim).
Sebagai penutup, marilah kita menyatukan hati, berjuang menegakkan agama Islam dengan gembira dalam rangka meraih ridha Allah SWT. Akhirnya terwujud baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur.
Ada empat hal yang perlu kita renungkan pada suasana Idul fitri ini. Pertama,kita telah melakukan kewajiban berpuasa selama bulan ramadhan. Kedua, dibulan ramadhan, kita sama-sama telah menmperingati turunnya Kita Suci Al Qur,an, yang menjadi pedoman hidup kita. Ketiga, sebelum kita pergi shalat ‘Ied, kita telah menyerahkan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin. Ke empat, biasanya setelah itu kita akan mengadakan silaturahim kepada sesame keluarga kerabat, para tetangga dan kepada kaum muslimin lainnya.
Yang pertama kita telah sebulan puasa. Tujuan puasa tidak lain adalah seperti termaktub pada surat Al Baqarah ayat 183 : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang terdahulu, agar kalian meningkatkan ketaqwaan kalian”
Allah SWT telah memerintahkan kepada kita agar supaya kita benar-benar bertaqwa kepada-Nya. Artinya ketaqwaan kita agar kita jalani dan kita mantapkan dengan sungguh-sungguh. Tidak mempermudah dan tidak menganggap enteng dalam bertaqwa kepada Allah SWT.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa” (QS.Ali Imran ayat 102). Ini menunjukkan bahwa ada diantara orang-orang yang walaupun sudah beriman masih juga ditemui taqwanya tidak sebenar-benarnya. Apalagi orang yang tidak beriman, mengaku-ngaku bertaqwa, pasti dusta.
Mengapa Allah SWT memerintahkan kepada orang yang beriman untuk bertaqwa dengan benar-benar? Karena Allah menjamin bahwa orang yang beriman dan benar taqwanya akan memiliki modal yang kuat dalam hidupnya di dunia maupun di akhirat kelak. Hanya orang-orang yang berakal jernih sajalah yang mengerti bahwa modal dan bekal yang paling baik dalam mengarungi hidup ini adalah taqwa kepada Allah SWT.
“Berbekallah kalian semasa hidup kalian, dan sesungguhnya bekal yang paling baik (sempurna) adalah sikap dan perilaku taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal dan berhati jernih. (QS.Al Baqarah ayat 197).
Marilah kita adakan evaluasi terhadap puasa kita, apakah taqwa kita telah meningkat atau belum, terutama pada sikap dan perilaku kita dihari-hari mendatang.
Yang kedua, dalam bulan ramadhan kita memperingati turunnya Al Qur’an. Al Qur’an sudah tidak diragukan lagi menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. “Inilah kitab (Al Qur’an) yang tidak ada keraguan atasnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang taaqwa”. (QS.Al Baqara ayat 2).
Ayat ini menunjukkan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang paling benar, yang paling haq, sehingga tidak pantas bila seseorang yang mengaku Islam meragukan kebenarannya, sehingga ada upaya untuk mereduksi apalagi mengamandemen ayat-ayat Al Qur’an, dengan alas an sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi jaman sekarang. Al Qur’an itu datangnya dari Allah SWT. Tuhan yang tahu betul tentang kelakuan dan tabiat manusia ciptaannya, sehingga dibuatkanlah pedoman yang pasti pas dan cocok untuk manusia itu. Makanya kita pertanyakan keimanan seseorang yang meragukan kemutlakan ayat-ayat Al Qur’an tersebut, bahkan berani mengatakan sudah tidak sesuai lagi dengan Hak Asasi Manusia (HAM), pluralisme dan Gender. Al Qur’an menjadi petunjuk yang paling baik, di antara pedoman hidup yang ada, bagi manusi terutama bagi orang-orang yang taqwa.
Dalam berbagai ayat disebutkan akan kebenaran Al Qur’an, bukti-bukti akan kebenarannya masuk akal dan dapat diterima dengan rasio, dan bahkan meniadakan keraguan, kebimbangan dan syak wasangka. Mari kita perhatikan ayat 88 surat Al Isra : “Katakanlah Muhammad, seandainya jika seluruh manusia dan jin bekerja sama untuk membuat yang serupa dengan (kitab) Al Qur’an, niscaya tidak akan dapat dan tidak akan mampu, sekalipun mereka bekerja sama satu dengan yang lain.”
Masihkan kita meragukan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi kita orang-orang yang beriman, yang bertaqwa? Oleh karena itu, jika benar-benar ingin meningkatkan ketaqwaan, maka jadikanlah Al Qur’an sebagai bacaan utama dan pertama bagi kita, tiada hari tanpa membaca Al Qur’an,
Yang ketiga, kita menyerahkan zakat kepada fakir miskin yang ada di sekitar kita atau kepada Badan/Lembaga Amil Zakat. Hal ini merupakan symbol dari salah satu hikmah puasa, yaitu kepedulian kepada nasib kaum dhua’fa. Kepedulian ini hendaknya tidak hanya terjadi sekali saja selama setahun, tetapi seterusnya. Allah SWT mnengancam orang yang menyimpan harta kekayaan dan bersifat bakhil. Surat At Taubah ayat 34: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak (kekayaan), tetapi tidak mau menafkahkan kepada fakir miskin pada jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang sangat menyakitkan.
Yang kempat yaitu silaturahim, menyambung tali persaudaraan mengikat kasih saying, dan sekaligus saling berma’afan. Dalam hidup bermasyarakat, memang kita harus rukun antar sesame. Menghindari perbuatan yang menyebabkan perselisihan dan permusuhan serta saling membenci dan dendam. Lebih-lebih persaudaraan antara umat Islam sendiri. Ukhuwah Islamiyah harus semakin erat terjalin.
Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan”. (HR.Muslim).
Sebagai penutup, marilah kita menyatukan hati, berjuang menegakkan agama Islam dengan gembira dalam rangka meraih ridha Allah SWT. Akhirnya terwujud baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur.
Senin, 06 November 2006
Pembangunan Gedung TK ABA 1

“Mari luruskan niat, Ikhlaskan niat, kemudian jangan pernah ada dihati kita, bahwa “karena saya, TK ini berdiri, karena saya bangunan ini bisa terwujud,” karena itu semua bisa membuat kita menjadi musyrik. Demikian pesan-pesan Ustadz Abdul Syukur dalam kultum yang disampaikan pada acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA 1) Sidomulyo yang dilaksanakan pada hari ahad tanggal 14 Syawal 1427 H bertepatan dengan tanggal 5 Nopember 2006 M di Desa Sidomulyo Kecamatan Anggana Kabupaten Kutai Kartanegara.
Peletakan Batu Pertama dilakukan oleh Camat Anggana diikuti oleh Kepala Dinas Cabang Pendidikan Kec.Anggana, Kepala Desa Sidomulyo dan Ketua MUI Kec.Anggana yang didampingi oleh Ketua PD Muhammadiyah Kutai Kartanegara, Ketua PD Aisyiyah Kutai Kartanegara dan Ketua PC Muhammadiyah Kec.Anggana serta Ketua PC Aisyiyah Kec.Anggana.
Pembiayaan pembangunan gedung TK yang terdiri dari dua ruang belajar, satu ruang kantor, satu ruang perlengkaan dan dua buah WC/KM dengan luas bangunan 7,5 M x 20 M ini mendapatkan bantuan dari Pemkab Kutai Kartanegara melalui Program Gerbang Dayaku dan rencananya seluruh pengerjaannya dilakukan dengan gotong royong swadaya warga Muhammadiyah dan masyarakat, demikian disampaikan Munawar selaku Sekretaris PC Muhammadiyah Kec.Anggana.
Ketua PC Aisyiyah Kec.Anggana dalam sambutannya mengharapkan pembangunan gedung ini bisa dipergunakan sebelum tahun ajaran baru 2007 yang akan datang dimulai, sebab TK ABA 1 yang telah memulai proses pembelajaran tahun 2006 ini, tepatnya tanggal 17 Juli 2006, sementara ini menggunakan bangunan yang sudah tua terbuat dari kayu yang terletak satu komplek dengan Masjid Mujahiddin Jl.K.H.A.Dahlan RT.8 Desa Sidomulyo Kec.Anggana Kab.Kutai Kartanegara.
Dalam acara tersebut, berkesempatan pula memberikan sambutan Kepala Desa Sidomulyo, Ketua PD Aisyiyah Kab.Kutai Kartanegara dan diakhiri sambutan Camat Anggana yang mengharapkan agar masyarakat khususnya warga Muhammadiyah senantiasa meningkatkan semangat fastabiqul khairat. Acara yang dihadiri oleh warga Muhammadiyah dan tokoh-tokoh masyarakat tersebut diakhiri dengan acara silaturahim para undangan yang hadir sehubungan masih dalam suasana Idul Fitri.(ay1).
Senin, 23 Oktober 2006
kemenangan atau kekalahan ?

Sejatinya merayakan sebuah kemenangan itu akan menjadi bermakna dan nyata, manakala kita tahu turnamen apa yang diikuti, supaya kita bisa tahu apakah jenisnya perlombaan, pertandingan, atau kontes.... siapa yang dihadapi, ini supaya kita mengukur-ngukur kekuatan dan strategi..... bagaimana peraturannya, ini supaya jalannya turnamen dengan jujur dan adil...... Nah... kalau semua itu sudah difahami, maka kalau kita kalah, kita bisa evaluasi dan introspeksi, sebaliknya bila menang, maka kemenangan itu terasa betul-betul menggembirakan.....
Sehubungan dengan idul fitri ini, mari kita merenung..... betulkah kegembiraan yang kita rayakan ini dalam rangka sebuah kemenangan..... renungkan....kemenangan apa?..... betulkah kita yang bertanding..... jangan-jangan kita hanya penonton belaka..... kalau begitu kita ikut-ikutan aja merayakan kemenangan orang..... kemudian, kalaupun kita yang bertanding,... betulkah kita yang menang?.... jangan-jangan malahan kita yang kalah...... ????
Selamat Idul Fitri 1427 H, taqobbalahu waminna waminkum, maaf lahir bathin....
Sabtu, 16 September 2006
tamu tak diundang
akhir-akhir ini, saya dibuat kesal.... sebab lagi asyik baca artikeldll,.... tahu-tahu dikunjungi oleh "tamu tak diundang".... kalau dulutamunya adalah iklan screen waver,.... kamudian iklan ngajak judi.....yang terkhir "mengerikan" yaitu iklan X file..... mungkin ada teman-teman yang bisa mengatasi "tamu tak diundang" itu supaya tidak datanglagi,... kalau ada tolong diinformasikan caranya, terima kasih.
Sabtu, 09 September 2006
hut anakku qyqy

hari ini tepat anakku yang bernama qyqy berusia tiga tahun menurut perhitungan kalender miladiyah. kemarin dia dibelikan rukuh (mukena),.... waduh.... senang sekali....... lengsung dicoba kenakan...... lucu..... dan cantik..... (jelas aja cantik, khan perempuan,.... kalo pria... pasti gak cantik)..... selain itu qyqy juga mendapat hadiah berupa crayon dan buku gambar.... dan tadi sore dibelikan kue lengkap dengan lilin angka 3.... senang betul..... tapi itu semua dirayakan hanya berempat saja dan di rumah aja..... abah do'akan semoga anakku qyqy menjadi anak yang solehah, bakti kepada orang tua,.... semoga menjadi orang yang cerdas, terampil dan taqwa.... robbana hablana min ajwajina wa jurriyatina qurrota a'yun, waj alna lil muttaqina imama..... amin ya robbal alamin
Minggu, 27 Agustus 2006
Akibat ilmu fiqih dan ilmu akhlaq yang tidak seimbang
Andai saja perkembangan ilmu akhlaq sama pesatnya dengan perkembangan ilmu fiqih, rasanya umat Islam akan berada dalam suasana yang lebih baik dewasa ini. Akibat dari ketidak seimbangan perkembangan tersebut menyebabkan kita umat Islam saat ini sangat sulit bersatu dan maju, oleh karena itu umat Islam senantiasa menjadi “bulan-bulanan” dari kelompok lain, terutama peradaban bangsa barat.
Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam dunia Islam, pesatnya perkembangan ilmu fiqih ditandai dengan banyaknya mahzab yang terbentuk. Bahkan dalam suatu wilayah atau daerah saja kadang-kadang terdapat dua atau lebih mahzab fiqih yang dianut oleh umat Islam. Nah, kalau saja pengetahuan tentang akhlaq yang mengajarkan tentang perlunya rasa toleransi yang tinggi untuk menghargai perbedaan tersebut tidak dimiliki oleh umat Islam maka akan selalu terjadi pertentangan-pertentangan karena perbedaan tersebut.
Ketidak seimbangan tersebut membuat orang selalu merasa paling benar sendiri, untuk itu terjadilah pemaksaan kehendak agar orang lain menyetujui pendapatnya. Kalau orang lain tidak mau menyetujui pendapat kelompoknya, maka terjadilah pemaksaan kehendak, apalagi kelompoknya mayoritas. Disamping itu, kesabaran, keikhlasan, dan rendah hati berada pada posisi yang paling rendah. Sebaliknya kesombongan, keangkuhan, riya, kasar, bahkan sifat zolim berada pada posisi yang sangat tinggi.
Itulah yang kita saksikan dewasa ini, umat Islam sangat mudah terbakar emosinya, marahnya meledak-ledak, apalagi kalau ada yang memprovokasi, akhirnya anarkis dimana-mana......... kemana akal sehat?
Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam dunia Islam, pesatnya perkembangan ilmu fiqih ditandai dengan banyaknya mahzab yang terbentuk. Bahkan dalam suatu wilayah atau daerah saja kadang-kadang terdapat dua atau lebih mahzab fiqih yang dianut oleh umat Islam. Nah, kalau saja pengetahuan tentang akhlaq yang mengajarkan tentang perlunya rasa toleransi yang tinggi untuk menghargai perbedaan tersebut tidak dimiliki oleh umat Islam maka akan selalu terjadi pertentangan-pertentangan karena perbedaan tersebut.
Ketidak seimbangan tersebut membuat orang selalu merasa paling benar sendiri, untuk itu terjadilah pemaksaan kehendak agar orang lain menyetujui pendapatnya. Kalau orang lain tidak mau menyetujui pendapat kelompoknya, maka terjadilah pemaksaan kehendak, apalagi kelompoknya mayoritas. Disamping itu, kesabaran, keikhlasan, dan rendah hati berada pada posisi yang paling rendah. Sebaliknya kesombongan, keangkuhan, riya, kasar, bahkan sifat zolim berada pada posisi yang sangat tinggi.
Itulah yang kita saksikan dewasa ini, umat Islam sangat mudah terbakar emosinya, marahnya meledak-ledak, apalagi kalau ada yang memprovokasi, akhirnya anarkis dimana-mana......... kemana akal sehat?
Sabtu, 12 Agustus 2006
MENSYUKURI NIKMAT KEMERDEKAAN
Dahulu secara jujur the founding father negeri ini telah menyatakan bahwa kemerdekaan yang diperoleh adalah merupakan “rakhmat Allah SWT”, mereka amat sangat yakin bahwa proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta itu terjadi karena anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itulah dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945 pada alinea ketiga disebutkan :”Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Namun ternyata, dalam perjalannya selama mengisi kemerdekaan sampai usia yang ke 61 tahun ini, kita bangsa Indonesia rupanyan telah lupa dengan rakhmat Allah SWT tersebut, sehingga kita bangsa Indonesia tidak pandai dan tidak bisa mensyukuri anugerah kemerdekaan tersebut dengan benar dan betul. Oleh karena itu, karena kita tidak pandai bersyukur, tidak betul dalam bersyukur serta tidak benar dalam bersyukur, maka sampai saat ini pula kehidupan berbangsa dan bernegara masih berada dalam keadaan krisis dan terpuruk.
Mari kita evaluasi secara jujur kondisi bangsa kita ini, dimulai di bidang politik, memang sudah ada jaminan kebebasan dalam hal berpolitik, tapi kita kebablasan menyikapi makna kebebasan tersebut, akhirnya hampir sebagian besar proses pemilihan kepala daerah langsung (PILKADA) terlaksana dengan tidak sebagaimana mestinya, terutama tidak adil dan tidak jujur. Kalau proses politik sudah tidak adil dan tidak jujur, maka hasilnya tidak akan berkah lagi.
Di bidang ekonomi, kondisi negara ini lebih sangat menyedihkan lagi, mari kita bayangkan, negeri ini mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah, tapi untuk mengelolanya tergantung dari bangsa lain, bahkan oleh bangsa atau Negara yang dulu di bawah kita atau Negara yang belajar dari kita. Kita penghasil minyak, tapi malah kekurangan minyak. Daratan dan lautan kita luas, tapi tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk bekerja, malah mengirim tenaga kerja (TKI atau TKW) ke luar negeri, yang luas wilayahnya jauh lebih kecil dari Negara kita, karena Negara tidak mampu membuka lapangan kerja.
Secara ekonomi kita sepertinya masih belum merdeka, 61 tahun sudah usia republik ini, tapi kita belum mempunyai sepeda motor merk sendiri, apalagi mobil. Lihat saja di jalan-jalan kendaraan yang lalu-lalang itu merk luar negeri semua, itu menunjukkan bahwa sektor transportasi kita dikuasi oleh Negara lain. Padahal konon kita sudah bisa membuat pesawat terbang, dan itupun perusahaannya bangkrut.
Dibidang sosial budaya lebih memprihatinkan lagi, dimana kita ternyata tidak mampu mempertahankan jatidiri sebagai bangsa yang mempunyai karakter. Semangat kebersamaan dan gotong royong sepertinya sudah berubah menjadi individualis meterialis. Cara hidup orang barat diadopsi tanpa filter sama sekali, terutama cara bergaul dan berbusana. Sementara cara disiplin dan etos kerja mereka tidak dicontoh.
Semangat musyawarah mufakat hampir hilang, yang berkembang adalah sistim voting dan banyak-banyakan dukungan. Padahal sistim voting itu sangat berbahaya, sebab kalau yang banyak mendukung itu adalah para setan, maka yang menang adalah setan.
Dibidang hukum juga menyedihkan, konon kita masih menggunakan produk hukum peninggalan Belanda! Ditambah lagi pelaksanaan hukum itu sendiri belum bisa dikatakan berjakan dengan benar. Berapa banyak pejabat/anak pejabat yang tersangkut kasus narkoba atau kasus hukum lainnya yang tidak bisa diadili.
Dibidang pendidikan para pelajar dan mahasiswa orientasinya hanya mengejar ijazah dan gelar saja, tanpa mempedulikan bagaimana cara memperoleh ijazah atau gelar tersebut. Bahkan ada yang tidak pernah belajar diperguruan tinggi tapi tahu-tahu sudah punya ijazah dan gelar sarjana. Oleh karena itu jangan heran, sekarang ini banyak orang yang mempunyai gelar sarjana s-1 dan s-2.
Dibidang kesehatan, penyakit gizi kurang menunjukkan kelemahan kita, apalagi penyakit rutin yang menimpa bayi dan anak-anak seperti muntaber dan demam berdarah, sepertinya tidak bisa diantisipasi dengan benar.
Dibidang pertahanan dan keamanan kita malu dengan para pahlawan yang telah merebut dan mempertahankan kemerdekaan di awal-awal kemerdekaan dulu. Kenapa malu? Sebab kita tidak bisa menjaga keutuhan NKRI, karena Timor-Timor lepas dari ibu pertiwi, ditambah lagi Sipadan dan Ligitan yang dicaplok Malaysia. Apakah Ambalat akan menyusul lepas juga?
Itulah beberapa evaluasi yang bisa penulis buat, sebenarnya penulis ingin adil dengan menampilkan sisi keberhasilan selama 61 tahun kemerdekaan Republik ini, seperti banyaknya pembangunan jalan, jembatan dan gedung-gedung serta infra struktur lainnya. Tapi pernah dibantah oleh seorang rekan yang mengatakan bahwa : “Siapa saja bisa membangun jalan, jembatan, dan gedung-gedung megah, kalau uangnya banyak, apalagi hasil utang luar negeri yang dibayar 10 tahun mendatang, karena saat itu bukan dia lagi yang memimpin.”
Setelah melihat hasil evaluasi di atas, penulis menyimpulkan bahwa telah terjadi banyak kesalahan dalam mengisi kemerdekaan selama 61 tahun ini. Oleh karena itu, ke depan marilah kita merenungkan kembali makna alinia 3 pada Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang berbunyi : ”Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kesimpulannya, bahwa kemerdekaan yang kita nikmati selama 60 tahun ini adalah atas berkat Allah SWT, yang harus kita syukuri dengan betul dan benar. Sekali lagi, disyukuri dengan betul dan benar. Allah SWT telah berfirman : “Dan ingatlah tatkala Tuhan-Mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim(14):7). Kemudian untuk mengisi kemerdekaannya adalah dengan pembangunan yang didorongkan oleh keinginan luhur, yang berorientasi untuk memperoleh dan mempertahankan berkat Allah SWT tersebut, bukan keinginan yang berorientasi pada politik sesaat, apalagi untuk kepentingan pribadi atau kelompok saja.
Dirgahayu 61 tahun Kemerdekaan Indonesia!
Namun ternyata, dalam perjalannya selama mengisi kemerdekaan sampai usia yang ke 61 tahun ini, kita bangsa Indonesia rupanyan telah lupa dengan rakhmat Allah SWT tersebut, sehingga kita bangsa Indonesia tidak pandai dan tidak bisa mensyukuri anugerah kemerdekaan tersebut dengan benar dan betul. Oleh karena itu, karena kita tidak pandai bersyukur, tidak betul dalam bersyukur serta tidak benar dalam bersyukur, maka sampai saat ini pula kehidupan berbangsa dan bernegara masih berada dalam keadaan krisis dan terpuruk.
Mari kita evaluasi secara jujur kondisi bangsa kita ini, dimulai di bidang politik, memang sudah ada jaminan kebebasan dalam hal berpolitik, tapi kita kebablasan menyikapi makna kebebasan tersebut, akhirnya hampir sebagian besar proses pemilihan kepala daerah langsung (PILKADA) terlaksana dengan tidak sebagaimana mestinya, terutama tidak adil dan tidak jujur. Kalau proses politik sudah tidak adil dan tidak jujur, maka hasilnya tidak akan berkah lagi.
Di bidang ekonomi, kondisi negara ini lebih sangat menyedihkan lagi, mari kita bayangkan, negeri ini mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah, tapi untuk mengelolanya tergantung dari bangsa lain, bahkan oleh bangsa atau Negara yang dulu di bawah kita atau Negara yang belajar dari kita. Kita penghasil minyak, tapi malah kekurangan minyak. Daratan dan lautan kita luas, tapi tidak bisa dijadikan sebagai tempat untuk bekerja, malah mengirim tenaga kerja (TKI atau TKW) ke luar negeri, yang luas wilayahnya jauh lebih kecil dari Negara kita, karena Negara tidak mampu membuka lapangan kerja.
Secara ekonomi kita sepertinya masih belum merdeka, 61 tahun sudah usia republik ini, tapi kita belum mempunyai sepeda motor merk sendiri, apalagi mobil. Lihat saja di jalan-jalan kendaraan yang lalu-lalang itu merk luar negeri semua, itu menunjukkan bahwa sektor transportasi kita dikuasi oleh Negara lain. Padahal konon kita sudah bisa membuat pesawat terbang, dan itupun perusahaannya bangkrut.
Dibidang sosial budaya lebih memprihatinkan lagi, dimana kita ternyata tidak mampu mempertahankan jatidiri sebagai bangsa yang mempunyai karakter. Semangat kebersamaan dan gotong royong sepertinya sudah berubah menjadi individualis meterialis. Cara hidup orang barat diadopsi tanpa filter sama sekali, terutama cara bergaul dan berbusana. Sementara cara disiplin dan etos kerja mereka tidak dicontoh.
Semangat musyawarah mufakat hampir hilang, yang berkembang adalah sistim voting dan banyak-banyakan dukungan. Padahal sistim voting itu sangat berbahaya, sebab kalau yang banyak mendukung itu adalah para setan, maka yang menang adalah setan.
Dibidang hukum juga menyedihkan, konon kita masih menggunakan produk hukum peninggalan Belanda! Ditambah lagi pelaksanaan hukum itu sendiri belum bisa dikatakan berjakan dengan benar. Berapa banyak pejabat/anak pejabat yang tersangkut kasus narkoba atau kasus hukum lainnya yang tidak bisa diadili.
Dibidang pendidikan para pelajar dan mahasiswa orientasinya hanya mengejar ijazah dan gelar saja, tanpa mempedulikan bagaimana cara memperoleh ijazah atau gelar tersebut. Bahkan ada yang tidak pernah belajar diperguruan tinggi tapi tahu-tahu sudah punya ijazah dan gelar sarjana. Oleh karena itu jangan heran, sekarang ini banyak orang yang mempunyai gelar sarjana s-1 dan s-2.
Dibidang kesehatan, penyakit gizi kurang menunjukkan kelemahan kita, apalagi penyakit rutin yang menimpa bayi dan anak-anak seperti muntaber dan demam berdarah, sepertinya tidak bisa diantisipasi dengan benar.
Dibidang pertahanan dan keamanan kita malu dengan para pahlawan yang telah merebut dan mempertahankan kemerdekaan di awal-awal kemerdekaan dulu. Kenapa malu? Sebab kita tidak bisa menjaga keutuhan NKRI, karena Timor-Timor lepas dari ibu pertiwi, ditambah lagi Sipadan dan Ligitan yang dicaplok Malaysia. Apakah Ambalat akan menyusul lepas juga?
Itulah beberapa evaluasi yang bisa penulis buat, sebenarnya penulis ingin adil dengan menampilkan sisi keberhasilan selama 61 tahun kemerdekaan Republik ini, seperti banyaknya pembangunan jalan, jembatan dan gedung-gedung serta infra struktur lainnya. Tapi pernah dibantah oleh seorang rekan yang mengatakan bahwa : “Siapa saja bisa membangun jalan, jembatan, dan gedung-gedung megah, kalau uangnya banyak, apalagi hasil utang luar negeri yang dibayar 10 tahun mendatang, karena saat itu bukan dia lagi yang memimpin.”
Setelah melihat hasil evaluasi di atas, penulis menyimpulkan bahwa telah terjadi banyak kesalahan dalam mengisi kemerdekaan selama 61 tahun ini. Oleh karena itu, ke depan marilah kita merenungkan kembali makna alinia 3 pada Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang berbunyi : ”Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Kesimpulannya, bahwa kemerdekaan yang kita nikmati selama 60 tahun ini adalah atas berkat Allah SWT, yang harus kita syukuri dengan betul dan benar. Sekali lagi, disyukuri dengan betul dan benar. Allah SWT telah berfirman : “Dan ingatlah tatkala Tuhan-Mu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS.Ibrahim(14):7). Kemudian untuk mengisi kemerdekaannya adalah dengan pembangunan yang didorongkan oleh keinginan luhur, yang berorientasi untuk memperoleh dan mempertahankan berkat Allah SWT tersebut, bukan keinginan yang berorientasi pada politik sesaat, apalagi untuk kepentingan pribadi atau kelompok saja.
Dirgahayu 61 tahun Kemerdekaan Indonesia!
Selasa, 25 Juli 2006
AYO, BURUAN………!
Bersegeralah atau cepat-cepatlah, “buruan” demikianlah Allah SWT mengawali firman-Nya sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an surat ke 3 ayat 133. Allah SWT yang sangat faham dan mengerti dengan keadaan manusia ingin menunjukkan betapa “sempitnya” keadaan kita manusia, betapa “mendesaknya” situasi, betapa sudah “daruratnya” kehidupan manusia, sehingga kita perlu melakukan tindakan yang segera, tindakan yang cepat atau “buruan”.
Tapi, apa yang harus disegerakan itu ? apa sebenarnya yang diburu itu ?
Di dalam ayat itu juga kita telah diberi informasi oleh Allah SWT untuk segera-sesegera mungkin mencapai ampunan Allah SWT, untuk cepat-cepat mengejar ampunan Allah SWT, untuk buru-buru memperoleh dan mendapatkan ampunan Allah SWT. Apa sebab ? Karena hanya dengan ampuan Allah SWT. kita akan selamat di akhirat kelak, karena hanya dengan ampunan Allah SWT. sajalah kita bisa terhindar dari siksa api neraka jahanam.
Sebagai bahan perbandingan, kita perlu mengetahui dan mengingat bahwasanya Rasulullah Nabi Muhammad saw, seorang manusia yang sempurna dan sebagai makhluk yang paling mulia dijagat raya ini, sebuah insan yang terjaga dari dosa, setiap harinya senantiasa masih saja memohon ampunan kepada Allah SWT, dan menurut riwayat disebutkan bahwa Nabi saw tidak kurang beristighfar sebanyak 70 kali dalam setiap harinya. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa kaki sang Nabi saw sampai bengkak karena terlalu lama melakukan sholat malam. Semua itu dilakukan oleh Rasulullah saw dalam rangka ingin memperoleh dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Padahal, kita tahu bahwa beliau tidak berdosa, tapi masih saja minta ampun kepada Allah SWT. Subhanallah.
Kata kunci berikutnya dalam firman Allah SWT tersebut adalah surga. Selain kita disuruh untuk mengejar dan mendapatkan ampunan, kita juga disuruh untuk mengejar surga. Hanya saja, kalau kita mau jujur melihat dan berkaca pada diri kita, apakah pantas kita memperoleh surga tersebut? Sudah patutkah kita mengharap surga? Sebab orang yang akan menerima surga-Nya hanyalah orang yang yang taqwa. Sudah bisakah kita disebut orang yang bertaqwa?
Taqwa dapat diartikan sebagai “memelihara atau menjaga”, maksudnya adalah bahwa pada saat manusia dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah/suci, maka seharusnyalah pada saat kita kembali kepada Allah SWT juga harus dalam keadaan fitrah atau suci. Jadi kalau kita bisa dan mampu menjaga ke-fitrahan tersebut, berarti barulah kita dikatakan orang yang bertaqwa. Kita ibaratkan, kita meminjam sebuah pisau yang tajam, maka setelah kita gunakan untuk keperluan dan pekerjaan kita dalam waktu tertentu, kita harus mengembalikan kepada orang yang punya pisau tersebut dalam keadaan sebagaimana kita meminjam dahulu itu, dan kita harus bertanggung jawab atas kondisi sebagaimana kita meminjam pisau tersebut yaitu tetap tajam, tetap bersih dan tidak rusak. Demikian juga jiwa kita, sebagaimana kita dilahirkan dalam keadaan fitrah dan suci dari dosa, maka pada saat kembali kelak kepada Allah SWT, jiwa kita harus dalam keadaan fitrah dan suci pula. Nah, kemampuan kita untuk menjaga dan memelihara sikap dan sifat yang fitrah dan suci itulah yang disebut taqwa.
Kenapa harus terburu-buru? Kenapa harus cepat-cepat? Kenapa harus sesegera mungkin kita mencari ampunan dan surga tersebut? Apakah surga dan ampunan itu akan habis tidak tersisa? Apakah kita tidak akan kebagian? Tidak, sekali-kali tidak. Bagi orang yang taqwa, ampunan dan surga Allah SWT itu luasnya seluas-luasnya, ampunan dan surga disediakan seluas langit dan bumi. Ketahuilah bahwa sifat buru-buru dan keadaan yang sangat mendesak tersebut karena kesempatan dan waktu yang kita miliki sangat terbatas, artinya umur atau usia hidup kita ini sangat sempit. Kita tidak tahu kapan kita mati, kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepada Allah SWT.
“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa “ (QS.Ali Imran (3) ayat 133).
Tapi, apa yang harus disegerakan itu ? apa sebenarnya yang diburu itu ?
Di dalam ayat itu juga kita telah diberi informasi oleh Allah SWT untuk segera-sesegera mungkin mencapai ampunan Allah SWT, untuk cepat-cepat mengejar ampunan Allah SWT, untuk buru-buru memperoleh dan mendapatkan ampunan Allah SWT. Apa sebab ? Karena hanya dengan ampuan Allah SWT. kita akan selamat di akhirat kelak, karena hanya dengan ampunan Allah SWT. sajalah kita bisa terhindar dari siksa api neraka jahanam.
Sebagai bahan perbandingan, kita perlu mengetahui dan mengingat bahwasanya Rasulullah Nabi Muhammad saw, seorang manusia yang sempurna dan sebagai makhluk yang paling mulia dijagat raya ini, sebuah insan yang terjaga dari dosa, setiap harinya senantiasa masih saja memohon ampunan kepada Allah SWT, dan menurut riwayat disebutkan bahwa Nabi saw tidak kurang beristighfar sebanyak 70 kali dalam setiap harinya. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa kaki sang Nabi saw sampai bengkak karena terlalu lama melakukan sholat malam. Semua itu dilakukan oleh Rasulullah saw dalam rangka ingin memperoleh dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Padahal, kita tahu bahwa beliau tidak berdosa, tapi masih saja minta ampun kepada Allah SWT. Subhanallah.
Kata kunci berikutnya dalam firman Allah SWT tersebut adalah surga. Selain kita disuruh untuk mengejar dan mendapatkan ampunan, kita juga disuruh untuk mengejar surga. Hanya saja, kalau kita mau jujur melihat dan berkaca pada diri kita, apakah pantas kita memperoleh surga tersebut? Sudah patutkah kita mengharap surga? Sebab orang yang akan menerima surga-Nya hanyalah orang yang yang taqwa. Sudah bisakah kita disebut orang yang bertaqwa?
Taqwa dapat diartikan sebagai “memelihara atau menjaga”, maksudnya adalah bahwa pada saat manusia dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah/suci, maka seharusnyalah pada saat kita kembali kepada Allah SWT juga harus dalam keadaan fitrah atau suci. Jadi kalau kita bisa dan mampu menjaga ke-fitrahan tersebut, berarti barulah kita dikatakan orang yang bertaqwa. Kita ibaratkan, kita meminjam sebuah pisau yang tajam, maka setelah kita gunakan untuk keperluan dan pekerjaan kita dalam waktu tertentu, kita harus mengembalikan kepada orang yang punya pisau tersebut dalam keadaan sebagaimana kita meminjam dahulu itu, dan kita harus bertanggung jawab atas kondisi sebagaimana kita meminjam pisau tersebut yaitu tetap tajam, tetap bersih dan tidak rusak. Demikian juga jiwa kita, sebagaimana kita dilahirkan dalam keadaan fitrah dan suci dari dosa, maka pada saat kembali kelak kepada Allah SWT, jiwa kita harus dalam keadaan fitrah dan suci pula. Nah, kemampuan kita untuk menjaga dan memelihara sikap dan sifat yang fitrah dan suci itulah yang disebut taqwa.
Kenapa harus terburu-buru? Kenapa harus cepat-cepat? Kenapa harus sesegera mungkin kita mencari ampunan dan surga tersebut? Apakah surga dan ampunan itu akan habis tidak tersisa? Apakah kita tidak akan kebagian? Tidak, sekali-kali tidak. Bagi orang yang taqwa, ampunan dan surga Allah SWT itu luasnya seluas-luasnya, ampunan dan surga disediakan seluas langit dan bumi. Ketahuilah bahwa sifat buru-buru dan keadaan yang sangat mendesak tersebut karena kesempatan dan waktu yang kita miliki sangat terbatas, artinya umur atau usia hidup kita ini sangat sempit. Kita tidak tahu kapan kita mati, kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepada Allah SWT.
“ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa “ (QS.Ali Imran (3) ayat 133).
Minggu, 23 Juli 2006
kejutan dari anakku..........
Pada hari ini, aku mendapat kejutan dari anakku yang kecil, umurnya dua buloan lagi tiga tahun, namanya Rezqy Amiria Suryadiena, panggilannya Qyqy. Ceritanya begini…..Sewaktu sore tadi dia mandi di kamar mandi, biasa memang dia ngoceh atau menyanyi-nyanyi, seperti lagu anak-anak seperti cicak-cicak di dinding dan lagu lain yang sejenis,…. Aku biasa saja,…. Tapi menjadi kaget karena setelah selesai nyanyi dia membaca surat Al fatihah….. senang dia bisa menghafal surat tersebut, tapi kaget juga kenapa membacanya di kamar mandi….. tapi biarlah dulu,…. Karena dia lagi senang –senangnya bermain…. Nanti pelan-pelan dikasih tahu, supaya jangan lagi membaca ayat-ayat suci Al Qur’an di kamar mandi….. Alhamdulilah, Qyqy…. Abah mengucapkan selamat hari anak….. …..ya Allah, tolong jaga dan bimbing anak-anak keturunanku, agar senantiasa berada pada jalan-MU,…. Amin ya robbal alamin….
Selasa, 18 Juli 2006
miss universe 2006, dari indonesia?
menurut perhitungan saya, nadine bisa dinobatkan menjadi miss universe tahun 2006, karena untuk "mengolok-olok" masyarakat indonesia yang mayoritas beragama islam. "mereka" mempunyai banyak cara untuk membuat opini yang menyesatkan menjadi sepertinya tidak menyesatkan, nilai-nilai akhlaq dibenturkan dengan seni dan budaya (katanya), bahkan aqidah diadu dengan pariwisata. katanya pula supaya indonesia lebih dikenal di dunia internasional, melalui miss universe, padahal indonesia tanpa itupun sudah dikenal dunia, karena masuk 10 besar negara paling korupsi, 10 besar negara produsen ekstasi/narkoba, 10 besar sebagai negara tujuan produk pornografi, negara terbesar yang paling banyak memusnahkan minuman keras, negara yang hutannya paling banyak rusak, negara pengekspor asap paling banyak, dan terakhir negara paling banyak menghadapi bencana alam.... makanya, "selamat" untuk nadine, kelihatannya anda berpeluang besar menjadi miss universe 2006......
Sabtu, 08 Juli 2006
mengikuti nabi
Setiap orang yang beriman akan sangat mendambakan cinta dari Allah SWT. Setiap orang yang beriman akan sangat merindukan ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosanya. Mengapa kedua hal tersebut sangat didambakan dan dirindukan oleh setiap orang yang mengaku beriman? Hal itu tidak lain dikarenakan hanya dengan cinta Allah SWT dan ampunan Allah SWT hidup manusia akan selamat dunia dan akhirat. Hanya dengan cinta dan ampunan Allah SWT hidup manusia akan berada dalam ketentraman dan kebahagiaan lahir dan bathin yang hakiki.
Orang yang dicintai dan diampuni oleh Allah SWT adalah orang yang selalu ingat kepada Allah SWT. Logikanya, bagaimana bisa dicintai oleh Allah SWT kalau dia tidak ingat dengan Allah SWT? Bagaimana dia bisa diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT kalau dia tidak ingat kepada Allah SWT? Sekali lagi, bahwa orang tidak akan bisa hidup dengan tenteram, bahagia dan sejahtera lahir bathin kalau tidak ingat kepada Allah SWT. Hanya dengan ingat kepada Allah SWT “satu-satunya” jalan supaya hidup bisa tenang-tentram. “Alaa bi dzikrillahi tathmainul quluub” (QS Ar Rad (13):28).
Supaya bisa selalu ingat kepada Allah SWT maka kita harus mencintai Allah SWT. Cinta yang sebenar-benarnya. Inilah masalahnya, yaitu apakah selama ini kita sudah benar-benar mencintai Allah SWT? Apakah tingkah laku kita selama ini sudah mencerminkan tanda cinta kepada Allah SWT? Apakah selama ini cara bekerja dalam rangka mencari nafkah untuk hidup ini sudah memperlihatkan tanda cinta kepada Allah SWT? Apakah cara beribadah kita selama ini sudah sesuai dengan tanda cinta kepada Allah SWT?
Kalau kita sudah bisa dengan jujur mempertanyakan itu semua kepada diri kita sendiri, maka Allah SWT memberikan informasi tentang bagaimana cara mencintai Allah SWT. Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran (3) ayat 31, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai (mengasihi) dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dari firman Allah SWT tersebut dapat diperoleh bahwa seseorang baru bisa dikatakan mencintai Allah SWT bila mengikuti (ittiba) kepada Nabi Muhammad saw. Apa yang diikuti dari Nabi Muhammad saw? Yaitu cara bertingkah laku, cara bekerja, cara beribadah Rasulullah saw yang harus kita ikuti dan kita contoh, supaya kita dikatakan mencintai Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Silahkan baca informasi Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab (16) ayat 21 : Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu contoh yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhirat dan dia banyak mengingat Allah.
Dari ayat di atas lebih jelas lagi bahwa contoh perilaku hidup yang baik itu hanya ada pada diri Nabi Muhammad saw. Makanya mengikuti (ittiba) kepada beliau akan menjadi tanda bahwa kita benar-benar mencintai Allah SWT. Oleh karena itu bagi orang Islam, kalau ingin dicintai oleh Allah SWT maka dia harus benar-benar mencintai Allah SWT, tanda bahwa dia benar-benar mencintai Allah SWT dia harus mengikuti (ittiba) kepada Rasulullah, untuk itu dia harus beraqidah, berakhlaq, beribadah dan bermuamalat duniawiyah dengan mencontoh kepada Nabi Muhammad saw dalam aqidah, akhlaq, ibadah dan muamalah duniawiyah.
Orang yang dicintai dan diampuni oleh Allah SWT adalah orang yang selalu ingat kepada Allah SWT. Logikanya, bagaimana bisa dicintai oleh Allah SWT kalau dia tidak ingat dengan Allah SWT? Bagaimana dia bisa diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT kalau dia tidak ingat kepada Allah SWT? Sekali lagi, bahwa orang tidak akan bisa hidup dengan tenteram, bahagia dan sejahtera lahir bathin kalau tidak ingat kepada Allah SWT. Hanya dengan ingat kepada Allah SWT “satu-satunya” jalan supaya hidup bisa tenang-tentram. “Alaa bi dzikrillahi tathmainul quluub” (QS Ar Rad (13):28).
Supaya bisa selalu ingat kepada Allah SWT maka kita harus mencintai Allah SWT. Cinta yang sebenar-benarnya. Inilah masalahnya, yaitu apakah selama ini kita sudah benar-benar mencintai Allah SWT? Apakah tingkah laku kita selama ini sudah mencerminkan tanda cinta kepada Allah SWT? Apakah selama ini cara bekerja dalam rangka mencari nafkah untuk hidup ini sudah memperlihatkan tanda cinta kepada Allah SWT? Apakah cara beribadah kita selama ini sudah sesuai dengan tanda cinta kepada Allah SWT?
Kalau kita sudah bisa dengan jujur mempertanyakan itu semua kepada diri kita sendiri, maka Allah SWT memberikan informasi tentang bagaimana cara mencintai Allah SWT. Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran (3) ayat 31, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai (mengasihi) dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dari firman Allah SWT tersebut dapat diperoleh bahwa seseorang baru bisa dikatakan mencintai Allah SWT bila mengikuti (ittiba) kepada Nabi Muhammad saw. Apa yang diikuti dari Nabi Muhammad saw? Yaitu cara bertingkah laku, cara bekerja, cara beribadah Rasulullah saw yang harus kita ikuti dan kita contoh, supaya kita dikatakan mencintai Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Silahkan baca informasi Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab (16) ayat 21 : Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu contoh yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhirat dan dia banyak mengingat Allah.
Dari ayat di atas lebih jelas lagi bahwa contoh perilaku hidup yang baik itu hanya ada pada diri Nabi Muhammad saw. Makanya mengikuti (ittiba) kepada beliau akan menjadi tanda bahwa kita benar-benar mencintai Allah SWT. Oleh karena itu bagi orang Islam, kalau ingin dicintai oleh Allah SWT maka dia harus benar-benar mencintai Allah SWT, tanda bahwa dia benar-benar mencintai Allah SWT dia harus mengikuti (ittiba) kepada Rasulullah, untuk itu dia harus beraqidah, berakhlaq, beribadah dan bermuamalat duniawiyah dengan mencontoh kepada Nabi Muhammad saw dalam aqidah, akhlaq, ibadah dan muamalah duniawiyah.
Sabtu, 24 Juni 2006
penyimpangan dalam beragama
Terdapat beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi menyimpang dalam beragama, yaitu :
1. Memperturutkan Hawa Nafsu
Allah SWT, Tuhan yang tahu betul tentang sifat dan tabiat kita sebagai manusia, telah menginformasikan kepada kita bahwasanya akan ada orang yang akan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Akan ada orang yang saat hidupnya hanya digunakan untuk mengejar kesenangan saja. Akan ada orang yang dalam mengisi hidup, hanya memperturutkan hawa nafsu.
Orangnya giat bekerja untuk mencari uang, oleh karena itu mempunyai penghasilan yang relatif cukup tinggi, tapi semuanya digunakan untuk bersenang-senang saja, seperti makan-minum sepuasnya, beli pakaian setiap bulan sekali, belanja di mall atau toko swalayan setiap minggu. Bersenang-senang dan menyanyi di café atau karaoke setiap malam. Pendek kata setiap hari setelah bekerja, sisa waktu sebelum tertidur malam dipergunakan untuk mencari kepuasan. Orang-orang seperti ini mempunyai prinsif yang penting happy yang penting enjoy.
Pola dan gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan demikian disebut dengan gaya hidup hedonistik. Dalam Islam bisa kita sebut dengan pola atau gaya hidup hanya memperturutkan hawa nafsu saja.
Untuk itu mari kita perhatikan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Al-Jatsiyah ayat 23:
“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.”
Dari ayat tersebut, bagi orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan alias bagi orang yang selalu memperturutkan hawa nafsu akan menjadi orang yang sesat, pendengaran dan hatinya akan dikunci mati oleh Allh SWT, makanya akan sulit untuk diingatkan atau dinasehati, penglihatannya ditutup, sehingga sulit untuk melihat dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana halal mana yang haram.
Kalau hari jum’at, kadang orang tersebut ikut juga sholat jum’at berjamaah, tapi nasehat atau tausiah dari khatib yang sedang berkhutbah, hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dalam acara peringatan hari besar agama seperti peringatan Isra Mi’raj, atau peringatan Maulid, atau peringatan tahun baru Islam, orang-orang ini juga hadir, karena diundang oleh panitia, tapi sekali lagi, tausiah dan nasehat dari para penceramah yang menguraikan hikmah peringatan tersebut hanya menjadi angin lalu saja, tidak membekas di hati sanubari mereka, karena pendengaran, hati dan penglihatan mereka telah ditutup dan kunci mati oleh Allah SWT.
2. Terlalu Berlebihan Mencintai Harta
Sikap manusia yang terlalu berlebihan dalam mencintai harta sangat dikecam oleh Allah SWT dan Rasulullah saw. Sikap yang sering disebut sebagai materialistic ini adalah hidupnya selalu diukur dengan berapa banyak orang mempunyai harta. Semua aktifitasnya selalu ditakar apakah menghasilkan uang atau tidak. Semua kegiatannya diukur apakah bisa menambah harta atau tidak.
Silahkan buka Al Qur’an Al Karim, dan mari kita perhatikan Surah Ali Imran ayat 14-15 :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan) binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan, serta keridhoan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.
Memang Allah SWT menjadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, seperti wanita, anak-anak, harta yang banyak, emas permata, kendaraan, bisnis yang berhasil, sebab itulah kesenangan hidup di dunia, tetapi Allah SWT telah mengabarkan juga ada yang lebih baik dari itu, yaitu surga, dan surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang taqwa dan diridhoi Allah SWT.
3. Terlalu Berlebihan Mencitai Dunia
Mencintai kehidupan dunia melebihi akhirat.membuat manusia menjadi celaka dan akan mendapat siksa yang sangat pedih, mari kita perhatikan Al Qur’an Surah Ibrahim ayat 2-3:
“Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. Yaitu orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”
Dari ayat di atas sudah jelas bahwa, manusia akan berada dalam kesesatan yang jauh.
4. Segala macam bentuk kemusyrikan. Al Qur’an surah An-Nissa ayat 48
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar.”
5. Segala macam bentuk bid’ah. Sabda Rasulullah saw :
“Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda: Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang bukan berdasar perintah kami, ia ditolak” (HR Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Uqdhiyah, no.3243).
“Dari Jabir ibn Abdullah bahwa Rasulullah saw bersabda, Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. Sejelek-jelek masalah adalah yang dibuat-buat (muhdatsat), dan setiap yang dibuat-buat (bid’ah) adalah sesat” (HR Muslim, Shahih Muslim, kitab al-Jum’ah, no.1435). Dalam matan an-Nasaiy ada tambahan “Dan setiap yang sesat berada di dalam neraka” (Sunan an-Nasaiy, Shalat Al-‘Idain, no.1560).
1. Memperturutkan Hawa Nafsu
Allah SWT, Tuhan yang tahu betul tentang sifat dan tabiat kita sebagai manusia, telah menginformasikan kepada kita bahwasanya akan ada orang yang akan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Akan ada orang yang saat hidupnya hanya digunakan untuk mengejar kesenangan saja. Akan ada orang yang dalam mengisi hidup, hanya memperturutkan hawa nafsu.
Orangnya giat bekerja untuk mencari uang, oleh karena itu mempunyai penghasilan yang relatif cukup tinggi, tapi semuanya digunakan untuk bersenang-senang saja, seperti makan-minum sepuasnya, beli pakaian setiap bulan sekali, belanja di mall atau toko swalayan setiap minggu. Bersenang-senang dan menyanyi di café atau karaoke setiap malam. Pendek kata setiap hari setelah bekerja, sisa waktu sebelum tertidur malam dipergunakan untuk mencari kepuasan. Orang-orang seperti ini mempunyai prinsif yang penting happy yang penting enjoy.
Pola dan gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan demikian disebut dengan gaya hidup hedonistik. Dalam Islam bisa kita sebut dengan pola atau gaya hidup hanya memperturutkan hawa nafsu saja.
Untuk itu mari kita perhatikan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Al-Jatsiyah ayat 23:
“Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?.”
Dari ayat tersebut, bagi orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan alias bagi orang yang selalu memperturutkan hawa nafsu akan menjadi orang yang sesat, pendengaran dan hatinya akan dikunci mati oleh Allh SWT, makanya akan sulit untuk diingatkan atau dinasehati, penglihatannya ditutup, sehingga sulit untuk melihat dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana halal mana yang haram.
Kalau hari jum’at, kadang orang tersebut ikut juga sholat jum’at berjamaah, tapi nasehat atau tausiah dari khatib yang sedang berkhutbah, hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Dalam acara peringatan hari besar agama seperti peringatan Isra Mi’raj, atau peringatan Maulid, atau peringatan tahun baru Islam, orang-orang ini juga hadir, karena diundang oleh panitia, tapi sekali lagi, tausiah dan nasehat dari para penceramah yang menguraikan hikmah peringatan tersebut hanya menjadi angin lalu saja, tidak membekas di hati sanubari mereka, karena pendengaran, hati dan penglihatan mereka telah ditutup dan kunci mati oleh Allah SWT.
2. Terlalu Berlebihan Mencintai Harta
Sikap manusia yang terlalu berlebihan dalam mencintai harta sangat dikecam oleh Allah SWT dan Rasulullah saw. Sikap yang sering disebut sebagai materialistic ini adalah hidupnya selalu diukur dengan berapa banyak orang mempunyai harta. Semua aktifitasnya selalu ditakar apakah menghasilkan uang atau tidak. Semua kegiatannya diukur apakah bisa menambah harta atau tidak.
Silahkan buka Al Qur’an Al Karim, dan mari kita perhatikan Surah Ali Imran ayat 14-15 :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan) binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?. Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan, serta keridhoan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.
Memang Allah SWT menjadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, seperti wanita, anak-anak, harta yang banyak, emas permata, kendaraan, bisnis yang berhasil, sebab itulah kesenangan hidup di dunia, tetapi Allah SWT telah mengabarkan juga ada yang lebih baik dari itu, yaitu surga, dan surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang taqwa dan diridhoi Allah SWT.
3. Terlalu Berlebihan Mencitai Dunia
Mencintai kehidupan dunia melebihi akhirat.membuat manusia menjadi celaka dan akan mendapat siksa yang sangat pedih, mari kita perhatikan Al Qur’an Surah Ibrahim ayat 2-3:
“Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. Yaitu orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.”
Dari ayat di atas sudah jelas bahwa, manusia akan berada dalam kesesatan yang jauh.
4. Segala macam bentuk kemusyrikan. Al Qur’an surah An-Nissa ayat 48
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar.”
5. Segala macam bentuk bid’ah. Sabda Rasulullah saw :
“Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda: Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang bukan berdasar perintah kami, ia ditolak” (HR Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Uqdhiyah, no.3243).
“Dari Jabir ibn Abdullah bahwa Rasulullah saw bersabda, Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. Sejelek-jelek masalah adalah yang dibuat-buat (muhdatsat), dan setiap yang dibuat-buat (bid’ah) adalah sesat” (HR Muslim, Shahih Muslim, kitab al-Jum’ah, no.1435). Dalam matan an-Nasaiy ada tambahan “Dan setiap yang sesat berada di dalam neraka” (Sunan an-Nasaiy, Shalat Al-‘Idain, no.1560).
Selasa, 06 Juni 2006
gempa yogya dan aqidah umat Islam
Dalam sebuah perbincangan di kantor mengenai bencana gempa diYogjakatra, terbentuk sebuah opini bahwa kejadian tersebut disebabkanoleh "marahnya" penguasa laut selatan, karena Sultan Yogja sudah tidakmengadakan persembahan lagi.
Sangat memperihatinkan opini tersebut, sebab di jaman seperti initernyata masih kita temui bahwa aqidah umat Islam masih sangat sangatmenyedihkan. Ini menunjukkan pula bagaimana pemahaman keagamaanmasyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sangat rendah.
Wahai para da'i dan mubaligh! tugas anda semakin berat......, teruslahberjuang......!
Sangat memperihatinkan opini tersebut, sebab di jaman seperti initernyata masih kita temui bahwa aqidah umat Islam masih sangat sangatmenyedihkan. Ini menunjukkan pula bagaimana pemahaman keagamaanmasyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sangat rendah.
Wahai para da'i dan mubaligh! tugas anda semakin berat......, teruslahberjuang......!
Kamis, 25 Mei 2006
MAYANGSARI DAN POLIGAMI

Menarik memang mengamati kasus yang menimpa Bambang Trihatmojo dan keluarganya, walaupun sebenarnya kasus tersebut biasa saja, karena sebenarnya banyak terjadi di masyarakat umum,…. Tapi kali ini karena kasus ini dialami oleh bukan masyarakat umum, maka “ributlah” orang seluruh Indonesia……
Sekali lagi firman Allah subhanahu wata’ala dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang dianggap tidak pas dan tidak sesuai dengan rasa keadilan….. bahwa aturan poligami dianggap menjadi penyebab pintu pagar dan kaca jendela menjadi rusak, dan bahkan bapak dan anak menjadi baku pukul,…… oleh karena itu dapatlah disimpulkan “oleh mereka” bahwa aturan halalnya poligami yang dibuat oleh Allah subhanahu wata’ala itu sudah tidak bisa berlaku lagi di jaman sekarang ini. Bahwa poligami hanya berlaku pada jaman nabi saja, bahwa poligami membuat keluarga jadi berantakan, istri lama menjadi kehilangan kebahagiaan…. dan isteri baru dituduh merebut suami orang…… Maka firman Allah tersebut (Qur’an Surat An Nissa (4) ayat 3) perlu di amandemen, atau harus dianulir, dan dihapus aja dari kitab Suci Al Qur’an, sebab ayat tersebut hanya dijadikan oleh kaum laki-laki sebagai alat pembenar untuk memuaskan nafsunya saja….. Kalau orang Islam sampai mempunyai pendirian dan pendapat yang seperti ini,….. keimanannya kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada Kitab Al Qur’an masih dipertanyakan, alias masih perlu diperbaiki lagi…..
Padahal kalau mau jujur, bahwa tidak sedikit yang berpoligami hidupnya rukun dan bahagia, dan tidak sedikit juga sebuah keluarga yang tidak berpoligami (istrinya cuma dan hanya satu) hidupnya tidak bahagia dan berantakan…..
Jadi kata kuncinya adalah, jangan aturannya yang disalahkan, apalagi aturan itu yang membuat adalah Allah subhanahu wata’ala, Tuhan yang menciptakan manusia, Tuhan yang tahu betul tentang sifat dan tabiat manusia yang diciptakannya, Tuhan yang mengerti betul apa dan bagaimana kebutuhan dan keperluan manusia. Tapi yang disalahkan adalah manusia itu sendiri yang belum kaffah, belum menyeluruh, belum konfrehensif, belum istiqomah dalam melaksanakan dan mengamalkan aturan Allah tersebut, makanya kalau manusianya sudah benar beriman dan benar taqwanya, hidup dalam poligami tidak masalah lagi, percayalah….. Insya Allah………
Langganan:
Postingan (Atom)


